Sudah muak dengan tingkah ulah anggota-anggota parlemen? Atau hobi mengkritik pemerintah dengan berdemo di senayan? Mungkin sudah saatnya Kamu yang mencoba merasakan menjadi anggota parlemen. Caranya?
Coba ikut Parlemen Muda Indonesia.
Parlemen muda indonesia adalah gebrakan baru dari anak muda Indonesia yang diinisiasi oleh Indonesian Future Leader. Di program ini, para pemuda benar-benar diajak untuk “berpolitik praktis” layaknya politisi pada masa pemilu. Nantinya akan terpilih 33 Anggota Parlemen Muda yang berhak mengikuti Sidang Parlemen yang akan dilaksanakan di Jakarta pada Januari 2012. Selama sidang, para anggota Parlemen Muda akan menghasilkan berbagai rekomendasi dan rumusan kebijakan khususnya dalam isu pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup. Anggota Parlemen Muda juga akan dibekali kemampuan kepemimpinan, komunikasi, advokasi, dan pengelolaan proyek. Dalam rangkaian sidang juga akan ditentukan sejumlah penghargaan khusus bagi wakil daerah yang menunjukkan performa terbaik dalam berbagai bidang.
Seluruh anggota Parlemen Muda akan kembali ke daerah masing-masing, dan menginisiasikan berbagai proyek advokasi dan sosial yang akan memberikan dampak kepada daerah mereka.
Grand launching program ini telah diselenggarakan pada 22 Juli 2011. Dan saati ini sedang berlangsung Masa kampanye dari 23 Okt - 23 Nov 2011

*peta alur Parlemen Muda Indonesia*
Ini dia contoh salah satu kampanye dari kandidat!

Menarik kan?
Ini baru namanya, yang muda yang berkarya! :D
"Pemuda sudah saatnya speak-up. Sayangnya, tidak banyak yang berani gambling dan memiliki modal cukup untuk berada di ranah politik praktis. Itu sungguh sangat disayangkan. Tapi, dalam memberikan sikap politik, atau berpartisipasi secara politis, pemuda harus berani. Entah dengan aksi, petisi, maupun hal-hal konkrit yang mendukung sikap politiknya (misal, menjadi seorang marhaen)"
—

Shefti Latiefah
Mahasiswi Tingkat Akhir Universitas Paramadina
Initiator of Save Street Child
Rektor UI (dimuat/ditayangkan hampir di seluruh media) : “pemberian Doctor HC untuk Raja Arab Saudi tersebut sudah dikaji komite yang terdiri dari delapan guru besar UI dari berbagai disiplin ilmu yang mewakili unsur anggota majelis wali amanah, senat akademik, dan guru besar.
Surat dari mohammad Nasikin, mantan ketua SAU (senat akademik Universitas) kepada Kompas.com
Bapak / Ibu mantan senator alumni SAU 2006-2011 yang berbahagia,
Perkenankan saya mengucapkan selamat idul fitri 1432 H dan mohon dibukakan pintu maaf lahir dan batin. Mudah-mudahan kita selalu dalam lindunganNya dan lebih baik di tahun mendatang.
Terkait pernyataan teman-teman tentang pemberian gelar HC, saya ingin menegaskan bahwa tidak ada perwakilan SAU di komite penganugerahan doctor HC. Artinya SAU tidak pernah secara resmi mengirim perwakilan ke komite tersebut dan oleh karena itu apa yuang diputuskan komite tersebut tidak dibahas di SAU apalagi disetujui oleh SAU. Keputusan di SAU adalah keputusan paripurna, apapun yang mewakili SAU persetujuannya harus melewati persetujuan paripurna dan pasti semua anggota akan mengetahuinya. Memang ada anggota komite yang kebetulan menjadi anggota SAU, tetap keanggotaannya di komite tidak pernah secara resmi dikirim untuk mewakili UI.
Saya juga ingin mengajak teman-teman mengingat kembali bahwa penganugerahan Doctor HC diserahkan kewenangannya kepada Rektor melalui SK MWA, sehingga SAU memang betul-betul tidak terkait dengan proses pemberian gelar tersebut. Mengingat di PP 152 tertulis bahwa pertimbangan untuk pemberian gelar adalah kewenangan SAU, maka SAU pernah membuat pansus (ketuanya Prof.Heru) untuk merevisi SK MWA tersebut agar kewenangan dikembalikan SAU. Hal ini didasari pada pemikiran bahwa paripurna SAU, yang memiliki anggota berbagai disiplin ilmu, akan lebih kompeten menentukan apakah seseorang patut mendapat anugrah doktor HC. Namun pansus revisi SK MWA tersebut dihentikan penugasannya karena diundangkannya UU BHP.
Demikian urun rembug saya yang sudah mantan ketua dan ingin SAU 2006-2011 pensiun dengan tenang.
Terimakasih dan mohon maaf lahir batin, mumpung masih bulan syawal.
>kayaknya memang ada Komite pemberian DR HC seperti halnya komite lain. Sayangnya tidak transparan dan hanya diumumkan lewat web. Tidak semua staf rajin membuka website UI. Ada baiknya ditulis juga dalam buletin Makara dan SK diberikan kepada masing-masing Ketua organ di lingkungan UI. Setiap SK seharusnya ada tembusan kepada semua organ agar dapat diberitahukan kepada anggota.
Wassalam,
Politik dan Pemuda Indonesia:
Banyak yang bilang partai politik itu busuk, kotor, dan negatif. Coba kita tanya sama beberapa anak muda secara random di sekitar kita, kebanyakan akan menjawab seperti itu. Jangan lupa tanyakan kesediaan mereka berpartisipasi dalam politik atau hal-hal yang berhubungan dengan kepartaian, pasti sebagian besar akan menjawab “tidak mau”. Bisa dimaklumi mengingat situasi politik kita dan pemberitaan media mengenai keadaan politik Indonesia sepertinya tidak jauh dari hal-hal negatif.
Fenomena seperti ini tentunya berbahaya mengingat partai politik merupakan salah satu penggerak dalam sisitem pemerintahan dan tata negara. Jika generasi-generasi muda tidak mau memperbaiki sistem manajemen partai politik agar mesinnya sehat, tentunya mimpi buruk tentang partai politik tidak akan pernah berakhir.
Lantas, apakah tidak ada harapan sama sekali bagi parpol untuk merengkuh anak muda? Tentu saja ada! Berdasarkan hasil etnografi planpolitika terhadap sejumlah anak muda dari kalangan organisatoris dan bukan. Salah satu hal yang membuat mereka percaya terhadap partai politik adalah figur politik yang menjadi titik sorot masyarakat.
Lantas seperti apakah figur yang dinantikan dan bisa membuat anak-anak muda memiliki kepercayaan?
Haryo, salah seorang aktivis kampus mengatakan bahwa tokoh atau figur politik yang dikagumi anak muda adalah seseorang yang down to earth baik dalam berpikir maupun berperilaku, juga memiliki track record yang baik dan dekat dengan lingkungannya.
Tokoh yang disukai anak muda sebaiknya sudah membuktikan kata-katanya sebelum mulai berbicara tentang dirinya dalam kampanye. Contoh lainnya adalah Anies Baswedan, beliau mndapatkan banyak simpati dan tentu saja calon-calon pemilih (jika beliau berniat mencalonkan diri menjadi pemimpin negara dan menggunakan partai politik sebagai kendaraannya) yang sangat banyak berkat usahanya membangun Indonesia Mengajar, suatu langkah kongkrit untuk negara.
Yang ingin kami coba sampaikan adalah, figur masih merupakan satu elemen kuat yang membuat seorang anak muda percaya terhadap salah satu partai politik. Fenomena ini agak berbeda dengan kecenderungan penggunaan icon atau selebritis dalam mengiklankan sebuah merk atau brand tertentu, dimana anak-anak muda tidak terlalu memperhatikan lagi, juga masih lebih mempercayai rekomendasi teman-temannya daripada icon tersebut. Dalam politik, ternyata figur masih sangat berpengaruh. Figur yang baik memberi sumbangan kepercayaan terhadap partai politik yang mengusung figur tersebut.
Oleh karena itu, sebaiknya sebelum 2014 datang, engagement partai politik terhadap anak muda sudah seharusnya dilakukan melalui pemilihan figur yang tepat, bukan dengan pemasangan baliho untuk memamerkan senyum para kandidat, tapi dengan pemberian aksi kongkrit dan nyata yang memang dilakukan untuk masyarakat sekitar.
Cheers!

Pemuda dan Politik:
Waktu jaman kampanye, coba ngacung yang suka terhibur dengan kelakuan para kandidat?? Well, saya salah satunya. Ternyata politik dan humor adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.Tidak heran kan, kalau di Indonesia banyak pelawak yang banting stir jadi politisi. Atau juga banyak tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian politik, yang dikemas di acara humor.
Alvarez, seorang peneliti ilmu politik dari California Institute of Technology meneliti lebih jauh mengenai humor dan politik. Dari penelitian ini ditemukan bahwa, humor sering digunakan para kandidat untuk menyerang kandidat lainnya. Selain itu, penggunaan humor cendrung dapat membiaskan pesan negatif sehingga diterima sebagai pesan yang lebih positif.
Atau sebaliknya, politik merupakan salah satu topik andalan dalam dunia lawak. Kalau di Indonesia mungkin kita mengenal acara seperti “Democrazy” atau “Sentilan-Sentilun”, maka di Amerika contohnya terdapat The Daily Show with Jon Stewart, sebuah acara komedi dengan genre yang sama.
Well, fakta penelitian yang cukup menarik. Asal jangan sampai permasalahan negara dijadikan bahan becandaan ya! ;)
*Artikel lengkapnya bisa di klik disini .
Pemuda dan Politik :
Artikel di PSychology Today ini cukup menarik untuk disimak. “Campaign ads, Do voters pay attention and do they matter?”. Selama masa kampanye, tidak asing lagi kalau kita sering dibombardir dengan iklan mengenai para kandidat. para kandidat seakan berlomba-lomba menghabiskan pundi-pundi rupiahnya dengan tampil di berbagai media untuk mempromosikan dirinya.
Efektivitas Iklan politik memang sudah sering dipertanyakan oleh para peneliti politik. Lalu, apakah iklan politik dapat mengubah persepsi pemilih dan hasil pemilu?
Peneliti menemukan bahwa iklan politik di televisi memiliki pengaruh terhadap opini pemilih namun dalam bentuk ingatan pendek. Iklan ini menuntun pemilih untuk memikirkan kandidat dalam cara yang berbeda.
Well, kalau memang iklan politik diketahui memiliki pengaruh yang semu, maka dapat disimpulkan bahwa gembar-gembor selama masa kampanye melalui iklan politik sebenarnya cukup sia-sia. Daripada baru heboh memperbaiki citra diri selama kampanye, kenapa tidak mulai dari sekarang dengan mencoba bermanfaat untuk masyarakat?

artikel lengkap : http://bit.ly/dWGYSS
Pemuda dan Politik Indonesia:

Sebagian besar anak muda memilih untuk tidak mem follow tokoh politik di twitter. Alasannya karena merasa tidak penting, tidak tertarik, bahkan karena mereka tidak respect terhadap para politisi.
Bagi para anak muda yang mem follow tokoh politik, alasan mereka sebagian besar karena sekedar ingin tahu.
Berarti, efek sosial media hanya sebatas awareness semata. Untuk menarik perhatian mereka, para politisi harus berbuat lebih dari sekedar virtual self belaka.
*survey dilakukan oleh PlanPolitika terhadap 430 responden dengan rentang usia 14-29 tahun.