Politik dan Pemuda Indonesia Sebuah riset yang pernah dilakukan oleh Plan Politika terhadap anak-anak muda di Jakarta memberikan hasil bahwa, dari rentang 1-100, anak-anak muda hanya berani memberikan nilai 51 untuk memprediksi seberapa yakin mereka dengan kondisi perpolitikan Indonesia di beberapa tahun mendatang. Hal ini tentunya sudah dapat diprediksi mengingat tingkat apatisme anak-anak muda semakin tinggi. Politik dianggap sebagai sesuatu yang tidak layak untuk mendapatkan perhatian mereka. Hal ini juga diperparah oleh pemberitaan media yang seringkali menyudutkan para pelaku politik. Padahal, banyak sekali politisi-politisi jujur yang memegang teguh idealisme. Sayangnya, pemberitaan tersebut sepertinya luput dari perhatian media. Hal ini  pada akhirnya membuat anak-anak muda mengalami apa yang dinamakan disonansi kognitif yang berujung kepada ketidakpedulian terhadap politik.

Politik dan Pemuda Indonesia Sebuah riset yang pernah dilakukan oleh Plan Politika terhadap anak-anak muda di Jakarta memberikan hasil bahwa, dari rentang 1-100, anak-anak muda hanya berani memberikan nilai 51 untuk memprediksi seberapa yakin mereka dengan kondisi perpolitikan Indonesia di beberapa tahun mendatang. Hal ini tentunya sudah dapat diprediksi mengingat tingkat apatisme anak-anak muda semakin tinggi. Politik dianggap sebagai sesuatu yang tidak layak untuk mendapatkan perhatian mereka. Hal ini juga diperparah oleh pemberitaan media yang seringkali menyudutkan para pelaku politik. Padahal, banyak sekali politisi-politisi jujur yang memegang teguh idealisme. Sayangnya, pemberitaan tersebut sepertinya luput dari perhatian media. Hal ini pada akhirnya membuat anak-anak muda mengalami apa yang dinamakan disonansi kognitif yang berujung kepada ketidakpedulian terhadap politik.

Politik dan Pemuda Indonesia :
Riset menarik yang dilakukan oleh Youthlab Indonesia. Politisi ternyata adalah nomor kesekian dalam daftar akun yang wajib di follow oleh anak-anak muda. Anak-anak muda lebih ingin follow akun-akun yang sekiranya dapat memberikan manfaat, infrmasi, dan kenyamanan dalam berkicau ria, yaitu akun info, teman, selebritis, dan influencing youth seperti Alanda Kariza dan Iman Usman. Di sisi lain, akun politisi dianggap sebuah akun yang membosankan, memusingkan, dan palsu. Selain bahasannya yang hanya melulu seputar politik (yang mana tidak mereka percaya), politisi memiliki cap “pembohong” dan berpura-pura atau hanya dianggap sebagai pencitraan semata. Mereka lebih menyukai sosok yang genuine dan authentic.

Politik dan Pemuda Indonesia :

Riset menarik yang dilakukan oleh Youthlab Indonesia. Politisi ternyata adalah nomor kesekian dalam daftar akun yang wajib di follow oleh anak-anak muda. Anak-anak muda lebih ingin follow akun-akun yang sekiranya dapat memberikan manfaat, infrmasi, dan kenyamanan dalam berkicau ria, yaitu akun info, teman, selebritis, dan influencing youth seperti Alanda Kariza dan Iman Usman. Di sisi lain, akun politisi dianggap sebuah akun yang membosankan, memusingkan, dan palsu. Selain bahasannya yang hanya melulu seputar politik (yang mana tidak mereka percaya), politisi memiliki cap “pembohong” dan berpura-pura atau hanya dianggap sebagai pencitraan semata. Mereka lebih menyukai sosok yang genuine dan authentic.

Politik dan Pemuda Indonesia
Apa yang kalian pikirkan jika melihat poster di atas? Geli? Malas? atau malah suka? Kami yakin sekali bahwa kalian pasti tertarik untuk melihat poster tersebut, tapi untuk apakah? Menertawai atau share pict ke grup bbm atau whatsapp untuk dijadikan bahan tertawaan bersama?
Setelah tertarik melihat, apakah dengan serta merta kalian akan memilih kandidat tersebut (anggap saja kalian tidak mengenal kandidat tersebut sebelumnya)? Mungkinkah muncul rasa ingin tahu yang mengarah kepada proses memilih? Hmm..sepertinya tidak ya? ;p
Poster tersebut mungkin awalnya memiliki dasar pemikiran seperti ini :
"Jika Rambo, tokoh film terkenal dari Hollywood saja memilih bapak kandidat, pasti para konstituen termasuk anak-anak muda akan ikut memilih juga"
Tapi benarkah anak muda akan berpikir seperti itu? Tentu tidak. Ciri khas anak muda saat ini adalah scrutiny. Mereka kritis dan memiliki database informasi yang luas melalui media cetak maupun internet. Tentunya dasar pemikiran seperti itu hanya akan berujung pada bahan lelucon semata.
Jadi, daripada menghabiskan banyak uang untuk membangun komunikasi untuk kampanye yang “konyol”, lebih baik menampilkan authenticity kandidat.
Cheers!

Politik dan Pemuda Indonesia

Apa yang kalian pikirkan jika melihat poster di atas? Geli? Malas? atau malah suka? Kami yakin sekali bahwa kalian pasti tertarik untuk melihat poster tersebut, tapi untuk apakah? Menertawai atau share pict ke grup bbm atau whatsapp untuk dijadikan bahan tertawaan bersama?

Setelah tertarik melihat, apakah dengan serta merta kalian akan memilih kandidat tersebut (anggap saja kalian tidak mengenal kandidat tersebut sebelumnya)? Mungkinkah muncul rasa ingin tahu yang mengarah kepada proses memilih? Hmm..sepertinya tidak ya? ;p

Poster tersebut mungkin awalnya memiliki dasar pemikiran seperti ini :

"Jika Rambo, tokoh film terkenal dari Hollywood saja memilih bapak kandidat, pasti para konstituen termasuk anak-anak muda akan ikut memilih juga"

Tapi benarkah anak muda akan berpikir seperti itu? Tentu tidak. Ciri khas anak muda saat ini adalah scrutiny. Mereka kritis dan memiliki database informasi yang luas melalui media cetak maupun internet. Tentunya dasar pemikiran seperti itu hanya akan berujung pada bahan lelucon semata.

Jadi, daripada menghabiskan banyak uang untuk membangun komunikasi untuk kampanye yang “konyol”, lebih baik menampilkan authenticity kandidat.

Cheers!

Politik dan Pemuda Indonesia :
Riset menarik yang dilakukan oleh AIESEC dan Youthlab Indonesia menyebutkan bahwa saat senggang dan bosan adalah prime time anak-anak muda Bandung mengecek akun social media mereka. Secara kognitif, keadaan pikiran berada pada fase rileks atau jenuh (saat bosan). Oleh karena itu yang dilakukan saat mengecek akun social media hanyalah melihat sesekali Lini Masa dan memperhatikan penuh pada tweet yang santai, kocak, atau dekat dengan keadaan mereka saat itu.
Keadaan senggang dan bosan akan menyebabkan semakin resistennya anak-anak muda saat membaca hal yang berkaitan dengan politik atau korupsi di pemerintahan. Ditambah oleh pelaku politik dan pembuat kebijakan yang selalu membicarakan hal-hal abstrak dan sulit dimengerti oleh kaum muda bukan pemerhati politik. 
Oleh karena itu, akan lebih baik jika para pelaku politik dan pembuat kebijakan berusaha mengikat diri dengan anak muda dengan cara menjadi diri sendiri dan tidak terjebak dalam usaha pencitraan yang seolah hanya membicarakan hal-ha yang sifatnya abstrak dan “ingin dicap pintar atau mumpuni”. Penting sekali jika politisi juga berbicara hal-hal yang sifatnya membumi, yang juga dirasakan oleh kaum muda kebanyakan untuk memperkecil resistensi mereka dengan dunia politik dan pemerintahan.
Cheers! :D

Politik dan Pemuda Indonesia :

Riset menarik yang dilakukan oleh AIESEC dan Youthlab Indonesia menyebutkan bahwa saat senggang dan bosan adalah prime time anak-anak muda Bandung mengecek akun social media mereka. Secara kognitif, keadaan pikiran berada pada fase rileks atau jenuh (saat bosan). Oleh karena itu yang dilakukan saat mengecek akun social media hanyalah melihat sesekali Lini Masa dan memperhatikan penuh pada tweet yang santai, kocak, atau dekat dengan keadaan mereka saat itu.

Keadaan senggang dan bosan akan menyebabkan semakin resistennya anak-anak muda saat membaca hal yang berkaitan dengan politik atau korupsi di pemerintahan. Ditambah oleh pelaku politik dan pembuat kebijakan yang selalu membicarakan hal-hal abstrak dan sulit dimengerti oleh kaum muda bukan pemerhati politik. 

Oleh karena itu, akan lebih baik jika para pelaku politik dan pembuat kebijakan berusaha mengikat diri dengan anak muda dengan cara menjadi diri sendiri dan tidak terjebak dalam usaha pencitraan yang seolah hanya membicarakan hal-ha yang sifatnya abstrak dan “ingin dicap pintar atau mumpuni”. Penting sekali jika politisi juga berbicara hal-hal yang sifatnya membumi, yang juga dirasakan oleh kaum muda kebanyakan untuk memperkecil resistensi mereka dengan dunia politik dan pemerintahan.

Cheers! :D

 Inovatif! :) 

Workshop Fotografi dan Penulisan Artikel Majalah Epik

Buat mahasiswa dan pemuda di Bandung dan sekitarnya, atau yang memiliki rencana menghabiskan akhir pekan di Bandung pada 12 dan 13 November 2011, bisa mampir ke acara “Kompetisi Fotografi dan Penulisan Artikel” yang diselenggarakan Majalah Epik. Bertempat di Auditorium SBM ITB Bandung, akan dilaksanakan workshop Street Photography and Urban Project, dengan pembicara dari Darwis Triadi Photography. Hari berikutnya giliran Redaktur Republika yang akan mengisi workshop bertema Layouting dan Desain Tata Letak.

Bosan dengan weekend yang gitu-gitu aja? Yuk, coba datang ke event yang satu ini :)

Yang muda yang berkarya! Parlemen Muda Indonesia

Sudah muak dengan tingkah ulah anggota-anggota parlemen? Atau hobi mengkritik pemerintah dengan berdemo di senayan? Mungkin sudah saatnya Kamu yang mencoba merasakan menjadi anggota parlemen. Caranya?

Coba ikut Parlemen Muda Indonesia.

Parlemen muda indonesia adalah gebrakan baru dari anak muda Indonesia yang diinisiasi oleh Indonesian Future Leader. Di program ini, para pemuda benar-benar diajak untuk “berpolitik praktis” layaknya politisi pada masa pemilu. Nantinya akan terpilih 33 Anggota Parlemen Muda yang berhak mengikuti Sidang Parlemen yang akan dilaksanakan di Jakarta pada Januari 2012. Selama sidang, para anggota Parlemen Muda akan menghasilkan berbagai rekomendasi dan rumusan kebijakan khususnya dalam isu pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup. Anggota Parlemen Muda juga akan dibekali kemampuan kepemimpinan, komunikasi, advokasi, dan pengelolaan proyek. Dalam rangkaian sidang juga akan ditentukan sejumlah penghargaan khusus bagi wakil daerah yang menunjukkan performa terbaik dalam berbagai bidang.

Seluruh anggota Parlemen Muda akan kembali ke daerah masing-masing, dan menginisiasikan berbagai proyek advokasi dan sosial yang akan memberikan dampak kepada daerah mereka.

Grand launching program ini telah diselenggarakan pada 22 Juli 2011. Dan saati ini sedang berlangsung Masa kampanye dari 23 Okt - 23 Nov 2011

 

  

*peta alur Parlemen Muda Indonesia*

Ini dia contoh salah satu kampanye dari kandidat!

Menarik kan?

Ini baru namanya, yang muda yang berkarya! :D

"Pemuda sudah saatnya speak-up. Sayangnya, tidak banyak yang berani gambling dan memiliki modal cukup untuk berada di ranah politik praktis. Itu sungguh sangat disayangkan. Tapi, dalam memberikan sikap politik, atau berpartisipasi secara politis, pemuda harus berani. Entah dengan aksi, petisi, maupun hal-hal konkrit yang mendukung sikap politiknya (misal, menjadi seorang marhaen)"

Shefti Latiefah 

 Mahasiswi Tingkat Akhir Universitas Paramadina

Initiator of Save Street Child


Surat dari mantan ketua SAU terkait pemberian Doktor HC oleh Rektor UI

Rektor UI (dimuat/ditayangkan hampir di seluruh media) : “pemberian Doctor HC untuk Raja Arab Saudi tersebut sudah dikaji komite yang terdiri dari delapan guru besar UI dari berbagai disiplin ilmu yang mewakili unsur anggota majelis wali amanah, senat akademik, dan guru besar.

Surat dari mohammad Nasikin, mantan ketua SAU (senat akademik Universitas) kepada Kompas.com

Bapak / Ibu mantan senator alumni SAU 2006-2011 yang berbahagia,

Perkenankan saya mengucapkan selamat idul fitri 1432 H dan mohon dibukakan pintu maaf lahir dan batin. Mudah-mudahan kita selalu dalam lindunganNya dan lebih baik di tahun mendatang.

Terkait pernyataan teman-teman tentang pemberian gelar HC, saya ingin menegaskan bahwa tidak ada perwakilan SAU di komite penganugerahan doctor HC. Artinya SAU tidak pernah secara resmi mengirim perwakilan ke komite tersebut dan oleh karena itu apa yuang diputuskan komite tersebut tidak dibahas di SAU apalagi disetujui oleh SAU. Keputusan di SAU adalah keputusan paripurna, apapun yang mewakili SAU persetujuannya harus melewati persetujuan paripurna dan pasti semua anggota akan mengetahuinya. Memang ada anggota komite yang kebetulan menjadi anggota SAU, tetap keanggotaannya di komite tidak pernah secara resmi dikirim untuk mewakili UI.

Saya juga ingin mengajak teman-teman mengingat kembali bahwa penganugerahan Doctor HC diserahkan kewenangannya kepada Rektor melalui SK MWA, sehingga SAU memang betul-betul tidak terkait dengan proses pemberian gelar tersebut. Mengingat di PP 152 tertulis bahwa pertimbangan untuk pemberian gelar adalah kewenangan SAU, maka SAU pernah membuat pansus (ketuanya Prof.Heru) untuk merevisi SK MWA tersebut agar kewenangan dikembalikan SAU. Hal ini didasari pada pemikiran bahwa paripurna SAU, yang memiliki anggota berbagai disiplin ilmu, akan lebih kompeten menentukan apakah seseorang patut mendapat anugrah doktor HC. Namun pansus revisi SK MWA tersebut dihentikan penugasannya karena diundangkannya UU BHP.

Demikian urun rembug saya yang sudah mantan ketua dan ingin SAU 2006-2011 pensiun dengan tenang.

Terimakasih dan mohon maaf lahir batin, mumpung masih bulan syawal.

>kayaknya memang ada Komite pemberian DR HC seperti halnya komite lain. Sayangnya tidak transparan dan hanya diumumkan lewat web. Tidak semua staf rajin membuka website UI. Ada baiknya ditulis juga dalam buletin Makara dan SK diberikan kepada masing-masing Ketua organ di lingkungan UI. Setiap SK seharusnya ada tembusan kepada semua organ agar dapat diberitahukan kepada anggota.

Wassalam,

Kaderisasi Partai Politik di pandangan Agung.
(@agung_anw)

Kaderisasi Partai Politik di pandangan Agung.

(@agung_anw)